Pesisir Online

Jernih Melihat, Bijak Mengabarkan

JPM, Inovasi Olahan Pinang Karya Pemuda Desa Semukut

Kepala Desa Semukut, Firmansyah, menilai langkah Bahrul membuktikan bahwa anak muda desa mampu melahirkan inovasi dari potensi lokal.

“Kami bangga karena ada anak muda yang mau berpikir kreatif. Ini tentunya menjadi memotivasi bagi kita semua,” katanya.

Menurut Firmansyah, pemerintah desa terus mendukung pengembangan JPM melalui berbagai kegiatan promosi. Salah satunya saat Seleksi Tilawatil Quran (STQ) tingkat desa, ketika itu jus pinang cair disajikan kepada dewan hakim sebagai minuman pendamping selain kopi.

“Kami ingin masyarakat mengenal bahwa desa kami memiliki produk lokal, inovasi pemuda yang layak dikembangkan,” ujarnya.

Dukungan serupa datang dari Camat Pulau Merbau, Hermansyah. Menurutnya, pemerintah kecamatan juga terus membuka akses promosi agar JPM semakin dikenal.

“Kemarin saat MTQ Riau di Kuansing, saya koordinasi dengan Tim Penggerak PKK Kabupaten Kepulauan Meranti agar JPM dapat ikut ditampilkan pada bazar. Alhamdulillah, kita bawa produknya dan terjual habis,” katanya.

Ia menilai potensi seperti JPM harus terus didorong agar tidak berhenti hanya sebagai produk lokal yang dikenal di kampung sendiri.

“Karena itu kami terus memotivasi Bahrul dan kawan-kawan agar tetap semangat mengembangkan usahanya,” ujar Hermansyah.

Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Tenaga Kerja Kabupaten Kepulauan Meranti, Eko Priyono, menegaskan pemerintah daerah berkomitmen mendampingi pelaku UMKM agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Namun, menurutnya, keberhasilan tersebut juga bergantung pada kesiapan pelaku usaha itu sendiri. Seperti halnya memenuhi berbagai persyaratan legalitas dan standar produksi.

“Yang pertama, pelaku UMKM harus siap dan punya niat untuk mengembangkan usahanya. Kemudian, mereka juga harus siap memenuhi persyaratannya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sertifikat halal, PIRT hingga BPOM menjadi syarat penting apabila produk ingin masuk ke minimarket maupun pasar modern.

“Pada dasarnya dinas siap berupaya membantu memfasilitasi sepanjang pelaku usaha menyampaikan kebutuhannya kepada kami. Sertifikasi halal untuk UMKM saat ini juga tersedia program gratis,” katanya.

Eko mengakui salah satu kendala terbesar UMKM di Kepulauan Meranti adalah belum terpenuhinya standar produksi, terutama rumah produksi yang harus terpisah dari aktivitas rumah tangga.

“Usaha memang pasti ada risikonya. Untuk BPOM misalnya, yang penting ada tempat produksi khusus, tidak bercampur dengan aktivitas rumah tangga. Bangunannya tidak harus mewah, bisa permanen dari kayu, yang penting memenuhi standar sehingga proses produksinya lebih higienis,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *